Sabtu, 10 Desember 2011

strategi pembelajaran ips


Karakteristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Kompetensi Supervisi Akademik merupakan salahsatu kompetensi yang harus dimiliki oleh para pengawas satuan pendidikan. Kompetensi ini dengan kemampuan pengawas dalam rangka pembinaan dan pengembangan kemampuan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan bimbingan di sekolah/satuan pendidikan. Secara spesifik pengawas satuan pendidikan harus memiliki kemampuan untuk membantu guru dalam memahami dan mengembangkan substansi tiap mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Istilah pendidikann IPS dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia masih relatif baru digunakan. Pendidikan IPS merupakan padanan dari sosial studies dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat. Istilah tersebut pertama kali digunakan di AS pada tahun 1913 mengadopsi nama lembaga Sosial Studies yang mengembangkan kurikulum di AS (Marsh, 1980; Martoella, 1976). Kurikulum pendidikan IPS tahun 1994 sebagaimana yang dikatakan oleh Hamid Hasan (1990), merupakan fusi dari berbagai disiplin ilmu, Martoella (1987) mengatakan bahwa pembelajaran Pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” daripada “transfer konsep”, karena dalam pembelajaran pendidikan IPS mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral, dan keterampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian, pembelajaran pendidikan IPS harus diformulasikannya pada aspek kependidikannya.
Konsep IPS, yaitu:
(1) interaksi,
(2) saling ketergantungan,
(3) kesinambungan dan perubahan,
(4) keragaman/kesamaan/perbedaan,
(5) konflik dan konsesus,
(6) pola (patron),
(7) tempat,
(8) kekuasaan (power),
(9) nilai kepercayaan,
(10) keadilan dan pemerataan,
(11) kelangkaan (scarcity),
(12) kekhususan,
(13) budaya (culture), dan
(14) nasionalisme.

Mengenai tujuan ilmu pengetahuan sosial (pensisikan IPS), para ahli sering mengaitkannya dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari program pendidikan tersebut, Gross (1978) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan IPS adalah untuk memepersiapkan mahasiswa menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya di masyarakat, secara tegas ia mengatakan “to prepare students to be well functioning citizens in a democratic society”. Tujuan lain dari pendidikan IPS adalah untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa menggunakan penalaran dalam mengambil keputusan setiap persoalan yang dihadapinya (Gross, 1978). Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu mahasiswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Kosasih, 1994).Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal siswa untuk melanjtkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS, tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaran Pendidikan IPS benar-benar mampu mengondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi mahasiswa untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan (Azis Wahab, 1986).
Pola pembelajaran pendidikan IPS menekankan pada unsur pendidikan danpembekalan pada mahasiswa. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencecoki atau menjejali mahasiswa dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka, melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang tekag dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya, serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah sebenarnya penekanan misi dari pendidikan IPS. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkab dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa (Kosasih, 1994; Hamid Hasan, 1996). Karakteristik mata pembelajaran IPS berbeda dengan disiplin ilmu lain yang bersifat monolitik. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Rumusan Ilmu Pengetahuan Sosial berdasarkan realitas dan fenomena sosial melalui pendekatan interdisipliner. Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmuilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.

Model Pembelajaran Terpadu dalam IPS
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996: 3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari. Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.

1. Model Integrasi Berdasarkan Topik
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya „Kegiatan ekonomi penduduk. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisik-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis, Kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.

2. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS .

Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

Strategi Pembelajaran dan IPS

1. Konsep Belajar dan Pembelajaran

Untuk menjelaskan dan menerapkan strategi pembelajaran terlebih dahulu kita mengenal sekilas konsep-konsep belajar dan pembelajaran
Kolb (1984: 38) dalam Malcolm Tight (2000: 24) belajar adalah proses pengetahuan dikreasi melalui transformasi pengalaman. Belajar adalah kebutuhan dalam kehidupan manusia, sama pentingnya seperti bekerja, dan berteman. Seperti dikemukakan oleh David Kolb (1986) “ belajar adalah cara adaptasi utama manusia, jika kita tidak belajar maka tidak bisa survive (bertahan hidup), dan kita tentu saja tidak akan berhasil baik. Belajar itu kompleks dan meliputi berbagai aspek kehidupan dan seharusnya tidak disamakan dengan pendidikan formal. Semua kegiatan manusia memiliki dimensi belajar. Belajar dilakukan secara terus menerus, informal, dengan setting yang berbeda, di lingkungan keluarga, mengisi waktu senggang, melalui kegiatan-kegiatan masyarakat, dan setiap aktivitas yang bersifat praktis.

Sementara menurut Jarvis (1990:196) dalam Malcolm Tight (2000: 25) bahwa belajar adalah:
(1)   ada tidaknya perubahan perilaku permanen sebagai hasil dari pengalaman;
(2)   perubahan relatif sering terjadi yang merupakan hasil dari praktek pembelajaran;
(3)   proses dimana pengetahuan itu digali melalui transformasi pengalaman;
(4)   proses transformasi pengalaman yang menghasilkan pengetahuan, skill, dan atttitude. dan
(5)   mengingat informasi.

Konsep belajar ini relevan dengan pembelajaran Kewarganegaraan yang lebih menekankan pada ranah afeksi dan perilaku. Bagaimana cara guru menerapkan konsep belajar ini dalam realisasi pembelaran di kelas.

Strategi Pembelajaran  IPS
a. Strategi Urutan Penyampaian Suksesif
Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi nasionalisme. Pertama-tama guru menyajikan pengertian nasionalisme. Setelah pengertian disajikan, maka makna mendalam, baru kemudian menyajikan contoh-contoh perilaku yang bersifat cerminan nasionalisme.


b. Strategi Penyampaian Fakta
Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar. Kemudian berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, dan asosiasi berpasangan. Contoh: dengan menggunakan jembatan keledai (mnemonics) yaitu LEMHANNAS dan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS.

c. Strategi Penyampaian Konsep
Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah mengajarkan konsep:
(1)   menyajikan konsep,
(2)   pemberian bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh),
(3)   pemberian latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain,
(4)   pemberian umpan balik, dan
(5)   pemberian tes.
Contoh:
Penyajian Konsep Budaya
Langkah 1: Penyajian konsep
Langkah 2: Pemberian bantuan
Pertama siswa dibantu untuk menghafal konsep dengan kalimat sendiri, tidak harus hafal verbal terhadap konsep yang dipelajari (dalam hal ini Pasal tentang keterwakilan politik perempuan).
Langkah 3: Umpan balik
Berikan umpan balik atau informasi apakah siswa benar atau salah dalam memberikan contoh. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.
Langkah 4: Tes Berikan tes untuk menilai apakah siswa benar-benar telah paham terhadap materi pelestarian budaya daerah. Soal tes hendaknya berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyampaian konsep dan soal la-tihan untuk menghindari siswa hanya hafal tetapi tidak paham.
d. Strategi Penyampaian Materi Pembelajaran Prinsip
Yang termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, okum (law), postulat, dan teori. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah:
(a)   sajikan prinsip oleh siswa hasil penelusuran di perpustakaan lewat penugasan,
(b)   berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip dalam kehidupan sehari-hari,
(c)   berikan soal-soal latihan,
(d)   berikan umpan balik, dan
(e)   berikan tes atau penilaian praktek.
Contoh:
Langkah 1: Sajikan teori
Langkah 2: Memberikan bantuan
Langkah 3: Memberikan umpan balik
Beritahukan kepada siswa apakah jawaban mereka betul atau salah. Jika betul berikan penguatan atau konfirmasi. Misalnya, “Ya jawabanmu betul”. Jika salah berikan koreksi atau pembetulan.
Langkah 4: Berikan tes

e. Strategi Penyampaian Prosedur
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah mencoblosan tanda gambar dalam Pemilu Presiden Langsung 5 Juli 2004.

Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:
(a)   Menyajikan prosedur
(b)   Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur
(c)   Memberikan latihan (praktik)
(d)   Memberikan umpan balik
(e)   Memberikan tes.

Contoh:
Prosedur menelpon di telpon umum koin. Langkah-langkah mengajarkan prosedur:
Langkah 1: Menyajikan prosedur Sajikan langkah-langkah atau prosedur menelpon dengan menggunakan bagan arus (flow chart)
Langkah 2: Memberikan bantuan Beri bantuan agar murid hafal, paham, dan dapat menelpon dengan jalan mendemonstrasikan cara menelpon.
Langkah 3: Pemberian latihan Tugasi siswa paraktek berlatih cara menelpon.
Langkah 4: Pemberian umpan balik. Beritahukan apakah yang dilakukan siswa dalam praktek sudah betul atau salah. Beri konfirmasi jika betul, dan koreksi jika salah.
Langkah 5: Pemberian tes Berikan tes dalam bentuk “do it test”, artinya siswa disuruh praktek, lalu diamati.

f. Strategi Mengajarkan/Menyampaikan Materi Aspek Sikap (Afektif)
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) adalah pemberian respon, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma.
Contoh:
Penciptaan kondisi. Agar memiliki sikap disiplin dalam berlalu lintas, di jalan dibuat ramburambu lalu lintas. Pemodelan atau contoh: Disajikan contoh atau model seseorang baik nyata atau fiktif yang perilakunya diidolakan oleh siswa. Misalnya tokoh agama atau tokoh nasional yang menjadi idola anak.

Dasar pertimbangan pemilihan metode adalah:
(a)   ompetensi yang akan dicapai,
(b)   isi pembelajaran,
(c)   waktu dan siswa,
(d)   fasilitas yang tersedia,
(e)   kemampuan guru,
(f)    kemampuan yang akan dicapai pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku.

Fungsi Metode Pembelajaran adalah:
1)     menentukan belajar dan pembelajaran,
2)     meningkatkan minat dan perhatian,
3)     menciptakan peluang interaksi,
4)     penciptaan iklim belajar,
5)     proses perubahan.

Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran, namun untuk kepentingan ini akan dipilih metode yang penting dan diasumsikan belum tersosialisasikan secara efektif, yaitu:
1.      simulasi,
2.      role playing,
3.      inquiri,
4.      penemuan (discovery),
5.      pemecahan masalah,
6.      karyawisata,
7.      peta konsep,
8.      pe-nugasan (resitasi),
9.      diskusi,
10.  ceramah,
11.  tanya jawab, dan
12.  kooperatif (cooperative learning).

Teknik Pembelajaran IPS
1) Teknik Resolusi Konflik
Teknik Resolusi Konflik (TRK), dalam National Commission of Social Studies (NCSS) di USA dalam Sudiatmaka (2003: 4) mendefinisikan TRK sebagai “the teaching and learning of Civic Education in the context of real societies “ (NCSS, 2000). NCSS mengajukan 10 (sepuluh) ciri dalam konteks pembelajaran yaitu:
1)     siswa mengidentifikasikan masalah-masalah sosialbudaya kemasyarakatan di daerahnya masing-masing yang ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat;
2)     pelibatan siswa secara aktif dalam mencari dan memformulasikan informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungan sosial masyarakatnya;
3)     menggunakan media elektronik dan media masa lokal, regional, dan nasional untuk memperoleh informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan budaya masyarakat;
4)     memfokuskan pengaruh informasi tentang sosialbudaya kepada siswa;
5)     perluasan batas dan waktu pembelajaran siswa yang melampaui batas-batas kelas dan lingkungan sekolah;
6)     berorientasi bahwa materi pelajaran bukan sebatas fakta, konsep, dan generalisasi yang harus dikuasai oleh siswa melainkan sebuah kompetensi dasar berkehidupan;
7)     menekankan pada keterampilan proses yang dapat digunakan oleh siswa untuk memecahkan masalah sosial-budaya dalam kehidupan sehari-hari;
8)     memberi kesempatan yang optimal kepada siswa untuk memerankan dirinya sebagai warga masyarakat, pemimpin, negara, dan bangsa bilamana telah mampu mengidentifikasi isu-isu sosial dan budaya yang dihadapinya;
9)     menekankan pada otonomi siswa dalam proses pembelajaran dalam kapasitasnya sebagai individu (personal ability) maupun kelompok (group abilities); dan
10) menekankan pada kemampuan dan keterampilan identifikasi siswa terhadap konflik sosial-kemasyarakatan dalam kehidupan di masa mendatang (future life) serta mampu merancang dan mengambil tindakan yang akurat. Prosedur Pembelajaran metode resolusi konflik.

Teknik Pemecahan Masalah
Pembelajaran melalui pemecahan masalah terdiri atas lima langkah (Ha-mid Hasan, 1996), yaitu:
1)     identifikasi masalah,
2)     pengembangan alterna-tif,
3)     pengumpulan data untuk menguji alternatif,
4)     pengujian alternatif, dan
5)     pengambilan keputusan.
Isu Kontroversial, Muessing (1975: 4) me-ngatakan isu kontroversial dengan kalimat “sesuatu yang mudah diterima oleh seseorang atau kelompok, tetapi juga mudah ditolak oleh orang atau kelompok lain”. Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode isu kontroversial:
a.       isu kontroversial tidak boleh menimbulkan pertentangan suku, agama dan ras;
b.      dekat dengan kehidupan siswa masa kini;
c.       sesuatu yang sudah menjadi milik masyarakat;
d.      berkenaan dengan masalah setempat, nasional maupun internasional.

3) Teknik Studi Kasus
Pembelajaran dengan studi kasus menghendaki partisipasi aktif siswa dalam proses berpikir menghadapi kasus. Dalam pembelajaran dengan kasus langkah-langkah berikut ini dapat dilakukan (Hamid Hasan: 1996):
a.       menentukan pokok/sub pokok bahasan,
b.      mengembangkan bahan pelajaran,
c.       mengembangkan kasus,
d.      merencanakan proses, dan
e.       melaksanakan penilaian
Dalam pembelajaran IPS semua metode tersebut bisa digunakan baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan atau variasi dari dua atau tiga metode tersebut. Selain harus menguasai metode pembelajaran, dalam pembelajaran PKN dan IPS, guru juga perlu menguasasi teknik atau keterampilan yang kerap digunakan dalam pembelajaran. Beberapa teknik atau keterampilan tersebut, seperti yang dikatakan Hasibuan (2004), adalah:
a.       keterampilan membuka dan menutup pelajaran,
b.      keterampilan bertanya,
c.       keterampilan memberi penguatan,
d.      keterampilan menjelaskan,
e.       keterampilan menggunakan variasi,
f.        keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan,
g.       keterampilan mengelola kelas, dan
h.       keterampilan membimbing diskusi.

Pendekatan Pembelajaran
Metode pembelajaran terkait erat dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk itu dalam uraiannya sulit dipisahkan. Pendekatan Pembelajaran dalam mata pelajaran Kewarganegaraan merupakan proses dan upaya dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, keterampilan, dan karakter warga negara Indonesia. Pendekatan belajar kontekstual dapat diwujudkan antara lain dengan metode-metode:
a.       kooperatif,
b.      penemuan,
c.       inkuiri,
d.      interaktif,
e.       eksploratif,
f.        berpikir kritis, dan
g.       pemecahan masalah.
Metode-metode pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara bervariasi di dalam atau di luar kelas dengan memperhatikan ketersediaan sumbersumber belajar. Guru dengan persetujuan kepala sekolah selain dapat membawa siswa menemui tokoh masyarakat dan pejabat setempat, juga dapat mengundang tokoh masyarakat dan pejabat setempat ke sekolah untuk memberikan informasi yang relevan dengan materi yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar