Sabtu, 10 Desember 2011

analisis gender dan penelitian berperspektif gender


I.             ANALISIS  GENDER  DAN  KETIDAKADILAN  SOSIAL

Analisis gender dalam sejarah pemikiran manusia tentang  ketidakadilan sosial dianggap suatu analisis baru, dan mendapat sambutan akhir-akhir ini.  Dibandingkan dengan analisis sosial lainnya, sesungguhnya analisis gender tidak kalah mendasar analisis gender justru ikut mempertajam analisis kritis yang sudah ada. Misalnya analisis kelas  yang dikemukakan oleh Karl Marx  ketika melakukan kritik terhadap system kapitalisme , akan lebih tajam jika pertanyaan tentang gender juga dikemukakan . Demikian halnya dengan analisis sosial lainnya seperti analisis hegemoni ideology dan cultural yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, merupakan kritik terhadap analisis kelas yang dianggap sangat sempit.
Dalam analisia apapun, tanpa mempertanyakan gender terasa kurang mendalam. Dalam bidang epistemology dan riset, misalnya analisis kritis ( critical theory ) dari penganu mahzab Frankfurt yang memusatkan perhatian kepada pekembangan akhir masyarakat  kapitalisme  dan dominasi epistemology positivisme , terasa kurang mendasar justru karena tidak ada pertanyaan  tentang gender dalam  kritiknya. Dengan kata lain , analisis gender merupakan analisis kritis yang mempertajam analisis  kritis yang sudah ada.
Selanjutnya menurut Fakih ( 1996 ) mengapa pengungkapan masalah kaum perempuan dengan menggunakan analisis gender sering menghadapi perlawanan ( resistence ) , baik dari kalangan kaum laki-laki maupun perempuan sendiri. Tidak hanya itu, analisis gender justru sering ditolak oleh mereka yang melakukan kritik  terhadap system sosial yang dominan seperti kapitalisme. Untuk menjawab  persoalan tersebut perlu diidentifikasi beberapa jawaban penyebab timbulnya perlawanan itu. Diantaranya :
1.              Karena mempertanyakan status kaum perempuan pada dasarnya berarti mengguncang struktur dan system status quo  ketidakadilan tertua dalam masyarakat.
2.              Banyak terjadi kesalahpahaman tentang mengapa masalah kaum perempuan harus dipertanyakan? Kesulitan lain, dengan  mendiskusikan soal gender pada dasarnya berarti membahas hubungan kekuasaan yang sifatnya sangat pribadi, yakni menyangkut dan melibatkan individu kita  masing-masing serta menggugat privilege (hak istimewa) yang kita miliki dan sedang kita nikmati selama ini.

II.            PENELITIAN BERPERSPEKTIF GENDER

Lahirnya perspektif gender ( feminis  perspective di Barat) dalam riset sosial adalah sebagai  respon terhadap kondisi ilmu pengetahuan yang cenderung androsentri. Dianggap andosentri karena ilmu pengetahuan pada umumnya  menyusun konsep atau teori dengan  cara mengasumsikan perempuan sebagai pasif, membuat perempuan tidak kelihatan, atau malah menjadi misoginy. Ciri lain  yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bersifat andosentris adalah kebiasaan mengadakan overgeneralization dengan membuat pernyataan berlaku bagi kedua jenis kelamin sekalipun studi yang dibahas hanya tentang kelompok khusus.
Menurut Sadli dan Marilyn Porter (1999) ,ada beberapa prinsip yang telah dipilih untuk diperhatikan dalam mengadakan penelitian berperspektif gender, yaitu :
  1. Gender sebagai tool of analysis
    1. Gender di pandang sebagai factor yang berpengaruh  menentukan persepsi dan kehidupan perempuan, membentuk kesadarannya, keterampilannya, dan membentuk pula hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.
    2. Fokus riset adalah masalah khas perempuan yang diamali sebagai konsekuensi dari hubungan gender dan cenderung berorientasi naturalistic. Dengan kata lain yang dianggap penting adalh dunia realitas sebagaimana dipersepsi dan diberi makna oleh perempuan.
    3. Kecenderungan untuk lebih sering memakai metode kualitatif seperti diskusi kelompok terfokus, wawancara mendalam, partisipasi observasi, dbs.
    4. Dalam mengadakan riset peneliti dimungkinkan unuk menggunakan paradigma dan metode yang beragam.

  1. Keberpihakan kepada / untuk perempuan.
    1. Topik riset adalah masalah perempuan
    2. Tujuan riset bukan terutama bukan tentang perempuan, melainkan untuk perempuan.
    3. Validitas riset dikaitkan dengan pengalaman perempuan.

  1. Metodologi riset
    1. Bukan mementingkan metode riset, tetapi bagaimana hasil riset digunakan untuk bias menjawab berbagai kondisi hidup perempuan yang merugi akibat gendernya. Dengan kata lain, orientasinya cenderung pada keinginan untuk  dapat memahami masalah yang dialami perempuan sebagai akibat dari keberadaannya dalam masyarakat dimana selalu berlaku ideology gender yang belaku itu tidak jarang merugikan perempuan sebagai anggota masyarakat maupun sebagai pribadi yang mempunyai kemampuan.
    2. Dapat memahami pengalaman perempuan dengan  meneliti persepsinya atau sering disebut dengan mendengarkan “ suara perempuan”.

  1. Orientasi manfaat

Tujuan riset adalah  untuk  dapat memampukan  perempuan . Caranya riset dipakai untuk melakukan perubahan  sosial atau merubah status quo yang berlaku dan merugikan perempuan atau yang menimbulkan masalah bagi perempuan. Karenanya penelitian berperspektif gender dapat disebut sebagai penelitian emansipatoris. Yaitu karena hasil riset dijadikan landasan untuk mengatasi masalah yang menjadi focus penelitian.
Hal yang sama juga dapat dilakukan dengan menganalisis berbagai dokumen, peraturan perundang-undangan, dan kebijakan yang mungkin mengandung bias gender sehingga merugikan pada salah satu jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar